Inovasi Pengelolaan Sampah Dengan Pola 3 R  (Reduce, Reuse, Recycle) Berbasis Masyarakat di TPST Mulyoagung Bersatu Kecamatan Dau

0
127

Latar Belakang:

TPST Mulyoagung Bersatu terletak di antara Kota Malang, dan Kota Batu. Awalnya Sejak Tahun 1985 sampah di Desa Mulyoagung, dibuang di pinggir kali Sungai Brantas.

Pada akhirnya tahun 2009, Pemerintah Desa Mulyoagung, bersama masyarakat berinisiatif merintis pengelolaan sampah untuk mengurai permasalahan sampah desa mendapatkan dana PNPM mandiri.

Dana tersebut dipergunakan untuk membangaun Pagar TPST, dan tahun 2011 Pemerintah Desa Mulyoagung, membentuk KSM (Kelompok Swadaya Masyarakat) yang pada waktu itu di terpilih Bapak Supadi Sebagai Ketua.

Pada tahun 2013 Kepala Desa Mulyoagung, serta Pengelola KSM mendapatkan penghargaan dari Wakil Presiden RI, Budiono untuk keberhasilan Pengentasan Kemiskinan Melalui TPST.

TPST 3R itu dibangun pada 2010 dengan biaya Rp2,8 miliar. Pendanaan berasal dari APBN 2010 Rp1,2 miliar, APBN 2012 Rp1,034 miliar, APBD Rp500 juta, PNPM Mandiri Rp100 juta, CSR Rp13 juta, dan swadaya masyarakat sekitar Rp20 juta.

Iovasi:

Pengelolaan sampah berbasis 3R (Reduce, Reuse, Recycle) di Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Desa Mulyoagung, Kecamatan Dau, Kabupaten Malang, mampu menyisakan 16% sampah untuk dibuang ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sampah.

Proses:

TPST 3R Mulyoagung Bersatu, setiap harinya mengolah sekitar 133 meter kubik, dari 9.523 rumah atau setara dengan 11.200 kepala keluarga. Pengangkutan sampah dari rumah warga setiap harinya dilakukan satu kali pada pagi hari.

Di TPST 3R Mulyoagung Bersatu ini terdiri dari 5 zona. Pertama, zona pemilahan awal di mana sampah yang datang kemudian dipilah terlebih dahulu. Kemudian zona pemackingan. Untuk zona ketiga adalah composting, dan zona keempat adalah peternakan kambing dan perikanan. Sedangkan zona terakhir adalah administrasi.

Sampah dari warga yang masuk ke TPST 3R Mulyoagung Bersatu, diawali dengan proses pemilahan. Proses pemilahan dikategorikan berdasarkan bahannya (kantong/botol plastik, kertas/kardus, sisa makanan, kaca, dan besi).

Setelah proses ini, sampah-sampah tadi dipilah kembali berdasarkan warnanya. Sampah-sampah yang telah melewati proses pemilahan akan dikemas dengan cara dimasukkan ke dalam karung ataupun dipress secara manual atau mesin, lalu dijual ke pembeli/pengepul. Saat ini ada lima mitra yang bekerja sama untuk mengambil sampah yang telah dipilah.

Pembelajaran:

Sampah bukan menjadi persoalan lagi setelah dikelola dengan konsep 3R, bahkan pengelolaan dengan 3R memiliki nilai ekonomi bagi masyarakat.

Hasil:

Saat ini, TPST 3R Mulyoagung Bersatu memiliki 80 orang pegawai. Sedangkan hasil pengolahan sampah TPST 3R Mulyoagung Bersatu terdiri dari 39% sampah organik yang dijadikan kompos, 49% sampah non organik yang dijual kembali kepada mitra kerja, sedangkan 12% sisanya adalah residu yang tidak dapat dimanfaatkan lagi dan dibuang ke tempat pembuangan akhir untuk dijadikan biogas.

TPST 3R Mulyoagung Bersatu telah menjadi percontohan TPST nasional, dan telah dikunjungi dari beberapa negara, di antaranya Jerman, Jepang, Australia, dan Amerika Serikat. Dalam jangka panjang, TPST 3R Mulyoagung ingin mengembangkan TPST ini menjadi salah satu tujuan wisata edukasi bagi masyarakat umum.

Rekomendasi:

Konsep pengelolaan sampah 3R efektif dijalankan di berbagai tempat yang memiliki persoalan sampah yang tinggi.

Kontak:

@TPID DAU

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here